Archives
-
Vol. 20 No. 1 (Oktber) (2023)
Pembaca budiman, Limen edisi ini menyajikan lima naskah dengan beberapa perspektif yakni tinjauan filsafati, teologis, alkitabiah, formatif, dan antropologis.
Artikel pertama, ditulis oleh Ignasius Ngari membahas konsep Nietzsche tentang “keinginan untuk berkuasa” yang tidak memiliki definisi yang jelas dan pasti, sehingga menimbulkan banyak tafsir. Yang paling menonjol adalah implikasi metafisik dan pragmatisnya. Dalam konteks ini, muncul aspek krusial: keinginan untuk hidup harus memiliki substansi yang nyata agar tidak menjadi konsep yang hampa dan ilusif. Konsekuensinya, merangkul kerangka keinginan untuk berkuasa menjadi perjuangan terus-menerus untuk melampaui dan meninggikan diri sendiri. Selain itu, hakikat mendasar dari keinginan untuk berkuasa menuntut penerimaan terhadap beragam aspek kehidupan. Keduanya penting dan pada dasarnya saling berhubungan. Keinginan untuk berkuasa memiliki arti penting dalam pengembangan pribadi di tengah kehidupan yang terus berubah, yang menawarkan kemudahan sekaligus menantang.
Artikel kedua, karya Fumensius Gions, berporos pada pertanyaan, “Apa yang dimaksud dengan beriman kepada Tuhan sebagai asal-mula dan akhir segala sesuatu?” Menurutnya, menjadi manusia berarti membangun hubungan dengan Tuhan dan sesama. Martabat manusia berasal dari kenyataan bahwa kita diciptakan Tuhan dan ditakdirkan untuk bersama-Nya dan dengan sesama. Manusia mampu membedakan tindakan apa yang memanusiakan dan tidak memanusiakan dirinya dan sesamanya, perilaku apa yang berkontribusi meningkatkan martabat pribadi manusia, dan yang bertentangan dengan hal ini. Menurut Gions, konsep Rahner tentang pengalaman akan Tuhan dan diri kita sendiri berfungsi sebagai panduan dan inspirasi untuk berefleksi.
Dalam artikel ketiga, David Dapi mengulas kitab Mikha pasal 6 yang menawarkan pemeriksaan kritis terhadap tiga aspek kehidupan sosial Israel: raja, imam, dan nabi. Dalam perikop itu dikatakan, para pemimpin menunjukkan perilaku sewenang-wenang dan tidak adil, para imam gagal menjalankan tugas sucinya, dan para nabi tidak menyampaikan kebenaran. Perselisihan yang diuraikan dalam Mikha 6:1-8, sebuah tema yang berulang kali muncul dalam literatur nubuatan Perjanjian Lama, dikenal sebagai “rîb”. Dalam ayat-ayat ini, Mikha menyampaikan syarat-syarat dari Allah untuk menegakkan kembali keadilan, serta tindakan keagamaan dan sipil yang diperlukan untuk memulihkan hubungan mereka dengan Tuhan. Mikha mengingatkan Israel akan tradisi keagamaan yang terkandung dalam Taurat.
Dalam karya tulis berikutnya, Wilhelmus Ireneus Gonsalit Saur mengulas tentang Gereja sinodal sebagai modus vivendi et operandi spesifik Umat Allah. Namun, semangat berjalan bersama telah menjadi masalah dalam Gereja. Klerikalisme adalah tantangan nyata bagi Gereja untuk melakukan perjalanan bersama. Fokus artikel ini adalah bagaimana membentuk para seminaris secara sinode. Menurutnya, rumah formasi adalah tempat untuk belajar dan mempraktikkan persekutuan, partisipasi, dan misi. Di sana, para seminaris belajar mendengarkan, membedakan, dan berpartisipasi. Untuk melaksanakan pelayanan khusus ini diperlukan orang-orang yang terlatih dengan baik sebagai seorang formator, yang mampu mengintegrasikan 4 dimensi formasi imamat. Proses formatio yang baik akan membantu para seminaris menjadi pelayan yang baik dalam perjalanan mereka bersama Umat Tuhan.
Di artikel kelima, Albertus Heriyanto menganalisis salah satu aspek budaya Maybrat, yakni sistem kepemimpinan bobot. Kepemimpinan ini berkisar pada individu yang memiliki serangkaian kualitas unik, termasuk kekayaan, kemurahan hati, pengetahuan, dan otoritas. Karakteristik yang melekat pada sistem kepemimpinan bobot tampaknya sejalan dengan apa yang disebut Marshall Sahlins sebagai “sistem big-man”. Sistem ini berpusat pada laki-laki yang diakui pengaruhnya, baik dalam komunitasnya maupun dalam hubungan antarkomunitas. Namun, muncul pertanyaan mendesak mengenai keberlanjutan dan relevansi sistem kepemimpinan ini dalam masyarakat Maybrat kontemporer. Dalam menghadapi globalisasi, modernisasi, dan perubahan sosial yang pesat, mampukah sistem kepemimpinan bobot bertahan? Apa peran sistem ini dalam dinamika masyarakat Maybrat saat ini?
-
Vol. 2 No. 2 (April) (2006)
Pembaca yang budiman.
Dalam era globalisasi saat ini pendidikan merupakan suatu syarat menuju modernisasi, yang begitu penting sehingga semua bangsa berlomba-lomba meningkatkan kualitas pendidikan. Pendidikan yang berkualitas menyangkut berbagai aspek, baik manusia, fasilitas, maupun biaya. Itu berarti, pendidikan hanya dapat terselenggara dengan baik bila individu, lembaga, struktur, sarana, serta biaya saling menunjang.
Empat artikel dalam edisi ini mencoba mengupas pendidikan dari berbagai aspek di Indonesia dan khususnya di Tanah Papua, sedangkan artikel terakhir membahas perubahan pandangan masyarakat Papua mengenai tanah. Meski tidak secara tersurat menyoroti pendidikan, namun tersirat digambarkan merosotnya pendidikan informal dalam tatanan Orang Papua.
Artikel J. Ohoitimur yang berjudul Pendidikan dan Pembebasan menyoroti perkembangan sistem pendidikan di Indonesia khususnya pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Melalui kurikulum ini diharapkan siswa menjadi pusat proses belajar-mengajar, terbina relasi yang harmonis antara guru–murid dan dikembangkannya kompetensi siswa. Selain itu, proses belajar-mengajar diarahkan pada pencapaian kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan moral. Lagi pula siswa diantar untuk berproses menjadi manusia yang memahami akar sosial-kulturalnya dan mampu bekerja keras dengan disiplin diri.
Proses menuju pendidikan berkualitas di Indonesia rupanya tidak berjalan dengan mulus. Proses itulah yang dipertanyakan oleh A. Bisei dalam artikelnya Mungkinkah Peradaban Kemiskinan dapat Menggantikan peradaban Kekayaan dalam Dunia Pendidikan? Melaluinya, kita dihantar menelusuri sejarah pendidikan formal dari zaman prakemerdekaan, kemerdekaan, orde baru, dan reformasi. Dengan bersandar pada pemikiran Ellacuria tentang visi kristiani pada dunia pendidikan yaitu option for the poor, pendidikan seharusnya berpihak pada kaum miskin supaya semua orang bisa mengenyamnya. Pendidikan juga mengusung humanisme universal yang merupakan pintu pembebasan. Di sana tidak ada lagi gap antara yang miskin dan yang kaya tetapi persaudaraan dan kerja sama.
Pendidikan juga menjadi pergumulan Gereja Katolik di Papua. Dalam artikelnya, ia mengulas sekilas sejarah pendidikan imam di Papua, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan pendidikan calon imam dari aspek spiritualitas dan psikologi, serta diakhiri dengan pendidikan calon imam sebagai alternatif pendidikan bermutu. Pendidikan calon imam terarah pada membantu calon imam menjadi seorang yang dekat dengan Allah dan berkepribadian mantap serta dewasa. Dengan tujuan itu, pendidikan calon imam di Papua diharapkan terbuka bagi putra-putra Papua, agar dapat mengenyam pendidikan bermutu, walau tidak semua akan menjadi imam.
Pendidikan merupakan tanggung jawab keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Artikel Y. Maturbongs melihat bagaimana pendidikan itu dijalankan oleh keluarga-keluarga Marind. Orang Marind di Wendu menyadari pentingnya pendidikan namun ternyata belum mewujudkannya dalam hidup sehari-hari. Mereka masih harus dihantar untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yakni untuk mencerdaskan anak bangsa, dan tujuan pendidikan kristiani yaitu berkembangnya bakat-bakat fisik, moral, intelektual, dan spiritual secara harmonis.
Tanah Papua merupakan harapan masa depan. Hasil alamnya melimpah, namun penduduknya sedikit. Ini menyebabkan migrasi penduduk dari luar Papua tidak terkendalikan. Akibatnya, terjadi berbagai permasalahan, khususnya tentang tanah. Artikel I. Resubun mengangkat masalah tersebut. Pokok persoalan tentang tanah ialah perbedaan cara pandang mengenai alam dan sumber dayanya. Orang Papua asli memandang tanah secara emosional, sosio-kultural, dan religius, sedangkan para pendatang lebih melihatnya secara ekonomis. Dewasa ini terjadi pergeseran nilai pada orang Papua dalam memandang tanah. Tanah tidak lagi dijaga dan dilestarikan tetapi diperjualbelikan. Ketika terdesak kebutuhan ekonomi, mereka kembali memalang tanah-tanah yang pernah mereka jual. Ironis memang!
Selamat membaca!





