Vol. 11 No. 2 (April) (2015)

					View Vol. 11 No. 2 (April) (2015)

Pembaca budiman,

 

Secara hakiki, manusia senantiasa mau hidup bersama dengan sesamanya dalam suasana damai. Namun kenyataannya, relasi antarmanusia tidak selalu bermula pada kesepahaman; demikian pun, tidak selalu bermuara pada kesepakatan. Karena itulah berkonflik dan berdialog menjadi dua pengalaman yang silih berganti mewarnai kehidupan manusia.

Terbitan limen kali ini memuat lima artikel yang membedah masalah konflik dan dialog tersebut dari disiplin ilmu yang berbeda-beda. Pada artikel pertama, dengan menggarisbawahi hakikat manusia sebagai makhluk sosial, Ignatius Ngari menegaskan bahwa agar bisa bertahan hidup dan membentuk jati dirinya, setiap orang membutuhkan dukungan dan penguatan dari yang lain. Masalah akan muncul bila individu-individu mengurung dirinya dalam kelompok ras, suku, atau agama. Kecenderungan seperti itu akan mengantar umat manusia pada keterpisahan, keterasingan satu sama lain, sikap menolak satu sama lain, dan pada akhirnya mengantar manusia pada ketiadaan. Dengan bertolak dari pemikiran filsafati Levinas, Ngari mengajak kita untuk bertanya, siapakah yang lain itu, untuk selanjutnya berkehendak untuk membangun relasi dengan sesama. Inilah tanggung jawab etis yang diemban setiap manusia.

Pada artikel berikutnya, Izak Resubun, membahas tentang dialog antara Gereja dan kebudayaan Papua dalam bingkai inkulturasi. Menurutnya, tujuan dialog ini ialah untuk mengintegrasikan ajaran iman Katolik dalam kehidupan harian umat. Jika kita menoleh ke belakang, kita dapat menemukan bahwa banyak upaya yang telah dilakukan oleh para misionaris untuk menggunakan unsur-unsur budaya lokal, berinkulturasi, baik dalam liturgi maupun karya-karya pelayanan lainnya. Resubun menyayangkan bahwa upaya-upaya positif tersebut kini justru semakin surut, seiring makin heterogennya umat Katolik di paroki-paroki, akibat arus globalisasi.

Dominikus Hodo, pada artikel ketiga, menandaskan pentingnya menghapus konflik dan membangun dialog antarsesama di Papua. Untuk itu, hal pertama dan utama yang harus dilakukan ialah menghapus sikap membeda-bedakan ras, warna kulit, dan berbagai perbedaan lahiriah lainnya. Dengan memetik inspirasi dari para tokoh Alkitab Perjanjian Baru, yakni Petrus, Paulus dan Yakobus, Hodo menegaskan bahwa Allah pada hakikatnya “tidak membedakan orang, tidak memandang bulu, tidak memandang muka atau tidak pilih muka.” Sikap Allah itulah yang menurutnya harus menjadi sikap kita.

Dalam perspektif teologis, Philip Ola Daen menyoroti keberadaan kita sebagai bangsa yang majemuk, baik dari segi suku, ras maupun agama. Bila kemajemukan ini dapat dikelola dengan baik, tentu akan menjadi kekayaan yang tak ternilai. Namun sebaliknya, bila tidak dikelola dengan baik, kemajemukan itu hanya akan menjadi sumber konflik. Dalam konteks kemajemukan itulah Gereja diundang untuk terlibat dalam dialog dan kerjasama dengan umat agama lain dengan mempromosikan kasih dan kebijaksanaan, dan menggerakkan semua nilai-nilai baik yang ada padanya untuk dibagikan pada yang lain. Dialog bisa menjadi cara Gereja menjalankan tugas perutusannya membangun Kerajaan Allah melintasi batas-batas suku, ras, dan agama demi menciptakan masyarakat yang harmonis, toleran, dan damai.

Pada artikel kelima, dalam perspektif teologi kontekstual, Neles Tebay menandaskan pentingnya keterlibatan Gereja dalam karya perdamaian. Ia mengeritik sebagian orang Kristen yang sering salah memahami keterlibatan Gereja dalam mengupayakan perdamaian. Bekerja untuk perdamaian sering tidak dipandang sebagai bagian dari misi Gereja. Menurutnya, mengupayakan perdamaian justru merupakan bagian dari upaya mewartakan Sabda Allah, meneruskan karya penyelamatan Allah yang telah dimulai oleh Kristus sendiri.

 

Selamat membaca.

Published: 2015-04-20

Articles