Vol. 5 No. 1 (April) (2009)
Pembaca budiman,
Realitas tak pernah final. Selalu dalam proses menjadi (to becoming). Karena itu, dibutuhkan suatu paradgima berpikir untuk memboboti realitas agar manusia yang berada di dalamnya tidak tumpul dalam berpikir dan tidak mandek dalam bertumbuh. Vitalitas hidup justru berkembang melalui kemampuan untuk mempertemukan gagasan-gagasan yang kontradiktif dan memadukan keanekaan realitas yang tumpang tindih. Limen edisi sekarang mengajak kita untuk mempertajam abstraksi konseptual dan memperpeka intuisi iman guna memboboti hidup yang terberi ini justru dalam realitas yang selalu berubah.
Nico Syukur Dister, melanjutkan pemikiran Cusanus, pada terbitan edisi Limen yang lalu dalam artikel Pengetahuan akan Allah. Dister yang berkiblat pada Cusa, mengatakan bahwa pengetahuan akan Allah merupakan momen absolut dan puncak pengenalan insani. Pada momen ini berlangsunglah keaktifan intelektual yang disebut Cusanus “intelligentia” berlangsung dalam puncak (summitas) intuisi rohani. Pada titik ini manusia seolah-olah diangkat mengatasi taraf daya pengenal insani, karena di sini mulai dilihatnya kenyataan begitu saja, kebenaran yang persis mengenai segala sesuatu. Pengetahuan akan Allah berbeda dengan pengetahuan akan segala yang tercipta lainnya.
Revolusi Kopernikan Immanuel Kant dan Thomisme Transendental, merupakan artikel yang membahas tentang satu perspektif dari Thomisme modern. Dalam artikel ini Fransiskus Guna membahas titik perjumpaan antara dua pemikir besar dalam sejarah pemikiran filsafat-teologi Kristen, yakni Kant dan Aquinas. Titik perjumpaan itu dikemas dalam istilah Thomisme Transendental. Dengan menggunakan aras berpikir Maréchal juga Rahner dan Lonergan pelopor Thomisme Transendental, Guna mengajak pembaca untuk menelusuri gerak dinamik Aquinas dan Kant. Dalam gerak tersebut, acuan argument transendental yang bersandar pada subyek yang mengetahui dapat bertemu dengan argumen mengada berupa realitas objektif yang diketahui. Titik temu keduanya adalah subyek. Subjek sebagai suatu fungsi konstitutif dan ‘batiniah’ dari objek pemikiran yang meresapi seluruh pemikiran kritis.
Ignasius Ngari dalam artikel An Alternative Approach to the Concept of The Separation Between The State and Religion, membahas hubungan antara Agama dan Negara dalam masyarakat yang majemuk. Menurut Ngari, adalah mustahil membuat pemisahan tersebut secara tegas baik dari segi fundamental maupun teknis-praktis. Dibutuhkan suatu hubungan yang bersifat terbatas. Hubungan terbatas, di satu sisi merupakan pengakuan akan adanya hubungan dan, di lain sisi, merupakan penerimaan terhadap perbedaan. Karena itu, hubungan terbatas perlu dibangun dengan memperhitungkan konteks sosial, penghargaan timbal balik, dan etika aksesibilitas publik.
Hubungan antara Iman dan Ilmu Pengetahuan digagas oleh Yohanes Jehuru dalam artikel Kesempurnaan Manusia, Iman dan Ilmu Pengetahuan. Bagi Jehuru, yang berguru pada Augustinus, iman dan pengetahuan bersumber pada wahyu yang sama, yakni Yang Tertinggi, Allah. Allah mengajak manusia untuk mengambil bagian dalam penyelenggaraan-Nya karena manusia memiliki akal. Manusia sebagai makhluk yang berakal budi tunduk kepada penyelenggaraan Ilahi secara amat luhur karena manusia ambil bagian dalam memelihara dirinya sendiri, dan mahkluk yang lain Tujuannya adalah kebahagiaan dan kesempurnaan manusia.
Abdon Bisei, dalam artikel Mewartakan Injil dalam Situasi Peralihan mengajak kita bersama untuk mendiskusikan upaya pewartaan Injil di tanah Papua pada situasi Otsus sekarang. Bagi Bisei, rakyat Papua menjalani hidup mereka secara episodal, dan karena itu mereka seakan selalu berada dalam situasi peralihan. Pada episode Otsus, mereka diperhadapkan dengan kuatnya peran uang dan kekuasaan. Kemudahan mendapatkan uang menimbulkan pergeseran pola hidup rakyat dari meramu dan berkebun kepada penjualan jasa tenaga kerja dan ingin menikmati hasil pasar global gaya kelas menengah kota. Dorongan berkuasa dengan motif sosio-ekonomis dan sosio-politis menempatkan sejumlah komponen rakyat Papua menggulirkan pemekaran wilayah untuk mendapatkan kekuasaan. Menurut Bisei, situasi demikian membutuhkan pastoral transformatif yang menempatkan rakyat sebagai fokus dan keberpihakan dalam mewartakan Injil.
Selamat membaca!





