Vol. 8 No. 1 (Oktober) (2011)

					View Vol. 8 No. 1 (Oktober) (2011)

Pembaca budiman

Memberi makna pada hidup selalu berarti membuatnya menjadi semakin berkualitas, entah untuk diri sendiri, entah untuk orang lain. Dalam hal itu kebaikan, kebenaran dan keindahan dipatok sebagai target tertinggi dan/atau terdalam. Target yang dimaksud bukan “sudah ada di sana” tetapi “dalam proses di sini”, yang tersembunyi dalam peziarahan, dalam peralihan, dalam kearifan, bahkan dalam kontradiksi-kontradiksi. Hal yang perlu untuk mendulang makna sehingga dapat mengangkatnya kepada tataran yang semakin berkualitas adalah merenungkannya. Keempat penulis dalam edisi Limen kali ini mengajak pembaca untuk masuk ke dalam upaya pemberian makna yang dimaksud melalui permenungan yang dalam dengan tujuan agar hidup lebih pantas dijalani.

Wilhelmus I.G. Saur, mengulas komitmen hidup Kristiani yang terpantul dari cara Fransiskus dari Assisi menjalankan hidupnya di mana peralihan kepada tingkatan nilai yang lebih tinggi merupakan penjenjangan hidup kepada tahap yang lebih mendekati sang Sempurna. Fransiskus dari Assisi mengajak banyak orang melalui hidupnya sendiri dan melalui tulisan-tulisannya untuk menempuh hidup seperti itu. Hidup yang selalu beralih dari hal-hal yang rendah kepada hal-hal yang tinggi, yang dalam arti mutlak adalah Allah sendiri. Dalam hal ini, peralihan yang dimaksudkan adalah bertolak dari diri sebagai pusat menuju kepada Allah sebagai pusat bagi hidup. Inilah dinamika transendensi-diri yang serentak juga merupakan perwujudan otentisitas-diri.

Dalam horizon yang serupa, Nico S. Dister membentangkan suatu jalan spiritual menuju Allah dengan menggunakan bahan-bahan dasar yang ditawarkan oleh seorang doctor seraphicus, Bonaventura, yang hidup dalam semangat dasar Fransiskus dari Assisi. Bonaventura, yang memandang ekstase sebagai panggilan setiap orang, menyusun suatu panduan yang memungkinkan orang berziarah menuju persekutuan dengan Allah. Persekutuan dengan Allah dalam cahayaNya (lumen Dei) merupakan tahap yang paling tinggi dalam peziarahan jiwa yang justru dimulai dari dua tahap yang lebih rendah, yakni bertolak dari jejak Allah dalam jagat raya (vestigia Dei), melalui citra Allah dalam jagat kecil (imago Dei). Dalam panduan itu, tampak bahwa peziarahan jiwa melewati pelbagai triad tahapan yang sesungguhnya pada batas tertentu menjadi pantulan Trinitas Mahakudus yang diyakini sebagai asas dan tujuan hidup manusia dan jagat raya.

Bernardus Renwarin memberikan kajian sosial yang berkaitan dengan kearifan-kearifan lokal yang terjalin dalam tatanan nilai-nilai kehidupan yang secara berkelanjutan diturun-alihkan dalam komunitas-komunitas tertentu. Nilai-nilai tersebut menjadi titik tolak dan tonggak arah dinamika hidup manusia, yang juga merupakan modal dasar bagi hubungan dan jaringan antarmanusia. Hal tersebut dipandang sebagai modal sosial yang amat dibutuhkan untuk memberi jaminan bagi pembangunan dan kelanjutan hidup suatu masyarakat. Sebab pembangunan hidup masyarakat, terutama dalam komunitas tertentu, tidak dapat disebut sukses kalau mengabaikan jalinan nilai-nilai setempat yang melahirkan mereka. Pengabaian itu akan sama dengan pengasingan, dan hal itu berarti mencederai otensitas-diri dan komunitas yang bersangkutan. Dinamika hidup yang dijalankan dalam tatanan dengan panduan tertentu tidak selalu difahami secara jernih dalam jangkauan logika tetapi dapat mengelakinya dengan posisi tawar tertentu pula.

Ignasius Ngari mengulas tatanan hidup di bawah panduan kebijaksanaan timur, taoisme, yang membentangkan dimensi-dimensi kontradiktif. Ulasan ini bermaksud mencermati dimensi-dimensi tersebut supaya dapat memperoleh suatu pemahaman yang lebih tepat dan komprehensif serta dapat menemukan nilai filosofis di Seberang kontradiksi-kontradiksi itu. Dengan demikian, orang terbantu untuk tidak terjebak dalam kegegabahan menuding kontradiksi sebagai hal yang irrasional atau alogik.

Selamat membaca.

Published: 2011-10-20