Vol. 7 No. 1 (Oktober) (2010)
Pembaca yang budiman
Meneliti sesuatu memang tak menghindarkan kita dari kesalahan. Namun meneliti sekurang kurangnya membuat kita menjadi lebih bijak dalam membuat pernyataan. Melalui penelitian, pernyataan dapat dibangun pada dasar yang luas dan dalam, serta kesabaran dan kehati-hatian. Dengan demikian potensi kesalahan yang melekat dapat dikurangi dan dieliminir sebisa mungkin. Empat tulisan dalam edisi Limen kali ini merupakan suatu manifestasi penelitian.
Nico Dister dalam tulisan tentang Keunikan Yesus Kristus dan Kemungkin Wahyu Allah di Luar Manusia Yesus menegaskan bahwa arti universal dari partikularitas historis dari wahyu Allah dalam Yesus Kristus tak boleh ditutupi atau direlatifkan untuk menghasilkan kristologi “kelas rendah” atau untuk menyenangkan hati mitra dialog. Sebaliknya dengan menghargai partikularitas wahyu Allah dalam Yesus Kristus kita dibantu untuk menghargai secara teologis kekhususan agama non Kristen. Bahkan juga rumusan-rumusan yang tampaknya sangat mustahil sekali pun menyediakan kesempatan paling baik untuk sampai pada pembicaraan teologis yang sungguh-sungguh.
Frans Guna melalui tulisannya yang berjudul Sejarah sebagai Sabda Allah: Suatu Perspektif Lonerganian mencoba meneliti titik tolak pembicaraan teologis tentang Allah. Berguru pada Bernard Lonergan, ditemukan bahwa dinamika sejarah ciptaan merupakan landasan pembicaraan mengenai Allah. Fokus perhatian yang paling utama adalah manusia sebagai subyek. Di satu sisi, melalui refleksi diperoleh pemahaman bahwa diri dan lingkungan merupakan Sabda Allah yang memanggilnya kepada kepenuhan. Di sisi lain, sejarah sebagai manifestasi wahyu Allah direfleksikan juga sebagai Sabda Allah itu sendiri. . Lalu, apa yang menjadi imperative teologisnya? Teologi, dengan demikian harus menggubris konteks historis yang lebih luas dari konteks kristiani.
Pada tataran yang „sekuler‟ Ignasius Ngari dan Izak Resubun menyelidiki relasi yang tertancap dalam pemikiran manusia dan kebudayaan. Ignasius Ngari melalui tulisannya yang berjudul The Possibility of Harmonious and Authentic Relationship in Sartre’s Philosophy, menyelidiki konflik dan ketidakotentikan relasi yang ditegaskan oleh Sartre. Relasi yang serba negatif ini tampak berseberangan dengan relasi harmonis dan otentik yang potensial dalam kodrat manusia dan yang wujud idealnya dibenarkan juga dalam pemikiran Aristoteles. Namun penyelidikan ini menghantarnya berjumpa dengan kemungkinan relasi yang secara tersembunyi dari pandangan tetapi yang tegas melantangkan keharmonisan dan otentisitas. Perjumpaan itu secara real terjadi melalui tiga konsep penting yaitu perubahan radikal, kemurahan hati dan kehendak bagi kebebasan. Hal ini tidak hanya diangkat dalam karya besar Sartre dalam Being and Nothingness, tetapi juga tersedia secara luas dalam beberapa drama dan novelnya. Perubahan dari konsep yang bernuansa konflik dan tak otentik ke yang non-konflik dan otentik memberikan gambaran yang cukup kuat bahwa konsep Sartre tentang relasi persahabatan bahkan lebih otentik dari konsep persahabatan Aristoteles.
Izak Resubun, dalam tulisannya yang berjudul Inisiasi Adat Papua di Persimpangan Jalan, memulai penyelidikan dengan pertanyaan: Mengapa masyarakat Indonesia mengalami anomalia? Mengapa masyarakat Papua menjadi korban minuman keras? Kebebalan, kebobrokan dan kekejian secara simultan terjadi dalam kurun waktu yang tidak berjauhan. Bertumpuh pada keyakinan akan pendidikan karakter yang berpijak pada kearifan lokal, penulis menegaskan bahwa iniasisi adat merupakan wahana untuk membangun pendidikan karakter. Penulis mengangkat dua iniasiasi adat: Seset di daerah Kerom dan Fenia Meroh di daerah Kepala Burung. Di dalamnya diuraikan secara mendeteil tahap-tahap dan detail pendidikan menuju kedewasaan. Pada akhirnya penulis menegaskan bahwa hal ini perlu dihidupkan dan diselenggarakan sehingga karakter sebagai orang dewasa dan bertanggungjawab dapat bertumbuh kembali.
Selamat membaca!





